Di suatu masa, hiduplah seorang kolonel muda yang jujur dan berprestasi. Sebut saja, namanya Pak Arthur, hidup bersama istrinya, Ibu Melinda beserta keempat putra putrinya. Pak Arthur sangat disiplin dalam keluarga, briliant, sehingga pada usia 37 tahun, ia sudah menjabat sebagai kolonel. Sayangnya dimasa itu, di kesatuannya banyak dilanda badai korupsi, sehingga ia memutuskan pensiun dini. Bayang bayang kemapanannya dan gemilang kariernya ditinggalkannya, karena sudah tidak sesuai dengan hati nurani dan prinsip hidupnya.

Selepas pensiun dini, kehidupan super susah ia jalani dengan istri dan keempat anaknya. Ia membuka les matematika untuk pelajar dan Bu Melinda membuat es lilin, serta keempat putra putrinya menjajakannya sehabis pulang sekolah. Kehidupan ini, Pak Arthur jalankan selama 1 tahun, penuh semangat dan sukacita.

Atas petunjuk dari keluarganya, Pak Arthur melamar dan bekerja disebuah perusahaan konsultan terbaik dinegeri itu. Dua tahun berlalu, dengan gaji yang lumayan, Pak Arthur dapat menabung dan membangun perusahaan sendiri. Pak Arthur bercita cita ingin agar perusahaan yang didirikannya menjadi berkat bagi banyak orang dan menampung banyak tenaga kerja dalam waktu cukup lama.

Waktu berlalu, 28 tahun kemudian, badai krisis moneter menghantam kawasan regional itu, sehingga banyak perusahaan dan industri gulung tikar.
Bagaimana dengan perusahaan milik Pak Arthur? Ternyata perusahaan Pak Arthur terkena imbas dari krisis moneter ini, dan “sekarat” menanggung utang jutaan dollar. Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi bagaimana imbas dari penutupan perusahaan, dimana bayangan dibenaknya, ribuan karyawan dan keluarganya yang kesulitan mencukupi kebutuhan mereka, beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang kurang mampu, serta kelangsungan yayasan sosial yang didonasinya.

Tuhan mengizinkan hal buruk terjadi pada diri Pak Arthur, pada tahun itu juga kesehatannya menurun dan terserang gangguan penglihatan, glukoma. Pak Arthur tidak menyerah, restrukturisasi utang gagal, ia terbang ke negeri jiran untuk mencari pinjaman bank dan lagi lagi juga gagal. Didalam doa, Tuhan menunjukkan bahwa ia masih memiliki tabungan untuk membayar utang perusahaan. Kabar buruknya, tabungan keluarga ludes dan kabar baiknya, utang perusahaan lunas.

Tiga tahun kemudian, perusahaan bangkit dari keterpurukan, suatu masa yang singkat dan cepat untuk dunia usaha. Pak Arthur membentuk “holding company”, sehingga banyak anak anak perusahaan yang dibangunnya dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dan lebih besar dari sebelumnya. Tuhan memberikan “bonus khusus” kepada Pak Arthur, kolonel yang jujur, sehingga mengabdikan diri untuk sesama-Nya.


Lalu bagaimana kita melihat kisah tersebut?
Ayat ayat Alkitab yang mendasari kisah tersebut, yaitu :

1 Korintus 13:13 berfirman, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah Kasih.”

Yohanes 15:13 berfirman, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya”.

Pak Arthur mengorbankan semua miliknya, agar seluruh karyawannya tetap memiliki hidup yang lebih baik sehingga ia mengganggap seluruh karyawan sebagai “sahabat sahabatnya”. Pak Arthur “menyangkal dirinya”, sehingga tidak tertarik hidup mapan dalam “pusaran korupsi”, tetapi merintis usaha dari nol, yang kemudian hari menjadi saluran berkat bagi sesama-Nya. Percayalah, jika kita mau menyangkal diri dan memikul salib Kristus, walaupun sesusah dan sepahit apapun hidup ini, Tuhan Yesus Kristus yang hidup menjadi sumber pengharapan kita, akan memberikan semuanya indah pada waktu-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua

Oleh : Dhanny


Axact

Inamedia

Media Bagi Sesama.

Tulis komentar:

0 comments:

Silakan isi komentar, isi diluar tanggung jawab kami.
Mohon menjaga etika dan saling menghormati.

Salam Inspirasi