Di suatu negara hiduplah seorang pengusaha janda bersama 3 puteranya. Ibu Margaretha adalah seorang pengusaha properti, bersama Bonny, Charles, dan Limuel, ketiga penerusnya. Ibu Margaretha, wanita tangguh, ditinggal suaminya menghadap Tuhan, 30 tahun yang lalu. Ia menjadi single parent untuk ketiga anaknya yang masih kecil, sampai ketiganya beranjak dewasa, dengan penuh kasih sayang dan telaten. Walaupun berprofesi sebagai pengusaha yang cukup sukses dikotanya, ia juga sukses merawat ketiga buah hatinya.
 
Sayangnya, ketiga puteranya tidak mengerti arti kasih sendiri, suka melawan, berfoya foya, dan marah jika kemauannya tidak dituruti. Di perusahaan itu sendiri, ada pula direktur keuangan yang culas dan licik, selalu mengambil kesempatan dan menguntungkan dirinya sendiri, namanya Pak Anindya.
 
Suatu hari, Ibu Margaretha mengambil keputusan yang luar biasa dalam hidupnya dan ia berkonsultasi dengan Pak Anindya. Dia ingin menghibahkan 50% hartanya untuk kepentingan panti asuhan, panti jompo, yayasan kesehatan kanker, yayasan  difabel, dan yayasan kesehatan jantung. Ibu Margaretha berpikir, bahwa semua kaum marginal dapat menikmati kesehatan gratis dan mereka juga harus mendapatkan perhatian khusus.
 
Setelah disetujui, Ibu Margaretha mendelegasikan kepada notaris dan pengacara keluarga, agar cepat diproses. Pak Anindya yang licik, menghasut ketiga putera Ibu Margaretha, agar meminta semua haknya dan perusahaannya. Setelah bekerjasama dengan Pak Anindya, dan memalsukan tanda tangan, mereka berhasil membuat ibunya hengkang dari perusahaan itu.
 
Ternyata Ibu Margaretha tidak hanya diusir dari perusahaannya, ia juga diusir dari rumahnya oleh ketiga anaknya, yang telah dibesarkannya. Dengan rasa sedih hati, Ibu Margaretha pergi hanya membawa sekoper pakaian dan sejumlah uang untuk biaya hidupnya.
 
Karena kelelahan dan terlalu larut dalam kesedihan, Ibu Margaretha pingsan di jalan, dan ditolong oleh pemulung bernama Ibu Ana. Ibu Ana membawa Ibu Margaretha ke rumahnya yang sederhana sekali. Setelah siuman, Ibu Margaretha bertanya, “Saya berada dimana?”. Dengan tersenyum, Ibu Ana menjawab, “Ibu berada di gubug saya, dan tadi saya menemukan Ibu pingsan di jalan”. Ibu Margaretha sangat berterima kasih kepada Ibu Ana.
 
Setelah seminggu dirawat di rumah Ibu Ana, Ibu Margaretha pamit tetapi dicegah oleh Ibu Ana, “Ibu mau tinggal dimana?”. Ibu Margaretha menjawab, “Saya mau cari kontrakan kecil kecilan Bu Ana?”. Dengan ditemani Bu Ana, Bu Margaretha mendapatkan kontrakan kecil.
 
Ibu Margaretha juga berpikir, bahwa dia juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari. Suatu ketika ia pergi ke pasar, dan disana dia melihat seorang penjual kue yang murung karena penyuplainya membuat kue kurang enak sehingga kiosnya sepi dari pembeli. Setelah berbincang dengan pemilik kios, Ibu Margaretha setuju dan gembira untuk menyuplai kue ke kios tersebut. Karena begitu gembiranya, Ibu Margaretha langsung membeli peralatan masak di pasar itu.
 
Hari pertama menyuplai kue, Ibu Margaretha tidak mau dibayar kuenya, tetapi untuk tester bagi calon pelanggan. Puji Tuhan, pelanggan antusias dan mengatakan sangat enak sekali kuenya.
 
Ternyata Ibu Margaretha juga pandai memasak, selain membuat kue. Jiwa sosialnya sangat patut dicontoh, karena setiap hari minggu, sebelum kebaktian, ia membuat nasi kotak dan setelah kebaktian, ia membagikannya kepada kaum marginal, seperti pengemis, pemulung, dan anak jalanan. Atas usulan Ibu Ana, ia membuka usaha catering dan kue.
 
Setahun berlalu, usaha Ibu Margaretha berkembang pesat dan pesanan mengalir terus, sehingga di usianya yang senja, ia sedikit kecapekan. Berkat Tuhan juga mengalir mengiringi kehidupannya setahun ini, sehingga ia mampu membeli rumah tinggal dan workshop catering, yang juga untuk kantor. Ibu Ana dipercaya sebagai kepala dapur, dan banyak ibu ibu pemulung direkrut sebagai pemasak pemasak handal untuk kateringnya.
 
Ibu Margaretha, sebagai seorang ibu, sangat kangen dengan ketiga puteranya, walaupun mereka sudah keterlaluan menyakiti hatinya. Bagaimana keadaan ketiganya, Bonny, Charles, dan Limuel?
 
Setelah Ibu Margaretha meninggalkan perusahaan propertinya, Pak Anindya dipercaya sebagai Managing Directornya sedangkan ketiganya masih hobi foya foya dan tidak mengurus perusahaannya. Keuangan perusahaan selalu minus, karena digelapkan oleh Pak Anindya sehingga ketiganya juga harus menjaminkan aset pribadinya kepada bank, baik aset bergerak dan aset tak bergerak. Kejahatan Pak Anindya juga terbongkar karena skandal pajak yang menyeretnya ke balik jeruji besi. Karena hutang di bank tidak terbayar, maka ketiganya terlunta lunta di jalan, dan walaupun pendidikan tinggi, mereka sudah terbiasa hidup mewah, sehingga memilih menjadi pengemis jalanan.
 
Hari itu merupakan Natal dimana setiap tahunnya, bagi Ibu Margaretha membagikan sembako, uang, dan makanan bagi kaum marginal di kota itu. Ibu Margaretha memerintahkan seluruh toko kue dan rumah makannya melakukan pembagian tersebut.
 
Di kantor utama yang sekaligus sebagai dapur pusat (workshop), Ibu Margaretha dan Ibu Ana, membagikan sendiri paket tersebut.  Bonny, Charles, dan Limuel yang mendengar adanya pembagian paket tersebut, menuju ke lokasi dimana ibunya sebagai dermawan yang baik hati, sedang berbagi berkat Tuhan. Dari kejauhan, mereka melihat sang ibu sedang membagikan Paket Natal, mereka malu dan membalikkan tubuh serta berlari sekencangnya. Ibu Margaretha yang melihat ketiganya, dengan dibantu oleh tenaga keamanan mengejarnya dan mereka bersimpuh di kaki ibunya sambil menangis.
 
Si sulung, Bonny berkata,”Mama maafkanlah kami yang begitu banyak berdosa kepadamu”.
Si bungsu Limuel berkata,”Kami sudah durhaka kepadamu, sehingga apa yang dahulu kami lakukan ke Mama menimpa kami”.
 
Apa yang dilakukan Ibu Margaretha selanjutnya?
Sambil menangis, berkatalah dia.”Berdirilah kalian anak anakku, sejahat dan sehina kalian, kalian adalah pangeran pangeranku, aku rindu kalian”. Lalu Ibu Margaretha berkata lagi,”Aku sudah memaafkan tindakan kalian sejak dahulu, memberikan pengampunan, serta memberkati kalian semua”.
Mereka pun hidup bersama dan berkumpul lagi.
 
 
Apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut diatas?
 
  • Kasih sayang seorang Ibu yang diamanatkan oleh Tuhan sehingga mampu berbuat yang terbaik bagi buah hatinya.
  • Terkadang kita banyak menjumpai kisah anak yang durhaka kepada orang tuanya, tetapi ada pula orang tua yang selalu membebani kejiwaan anaknya.
  • Harta duniawi hanya titipan berkat dari Tuhan, yang tidak abadi dan hanya Warisan Rohani dari Kristus sendiri yang perlu kita perbanyak.
  • Cinta harta dan cinta uang adalah akar segala kejahatan, dapat menciptakan konflik dalam keluarga.
  • Bekerja dan menjadi kaya, sah sah saja, asalkan dapat mejadi manfaat dan berkat bagi banyak orang.
  • Yesus Kristus pernah berkata kepada Orang muda yang kaya, “Pergi, juallah segala hartamu, dan datanglah serta ikutlah Aku”.(Lukas 12:33).
  • Lukas 12:20 juga menjelaskan perkataan Yesus,”Hai orang bodoh,pada malam ini juga jiwamu diambil daripadamu,dan apa yang telah kausediakan,untuk siapakah itu nanti?”
  • Matius 6:19 juga menjelaskan Firman Tuhan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya, dan pencuri membongar serta mencurinya”.
  • Terkadang kita hanya mendengarkan “bisikan bisikan”, yang tidak jelas secara sepihak, dan tidak bersikap dewasa untuk menyaringnya lagi, sehingga dewasa ini banyak terjadi kesalahpahaman dan adu domba.
  • Alangkah baiknya, kita mencek dan ricek semua masukan sehingga jelas kebenarannya, bukan sekedar berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
  • Moment Natal yang penuh kasih, menjadikan Natal untuk semua, untuk kaum marginal, dan  damai untuk keluarga.
  • Kekuatan Natal sebagai kedatangan Sang Juru Selamat, Yesus Kristus, sebagai penebus dosa kita, dimana menjembatani hubungan antara Tuhan dan manusia.
  • Dalam momentum tahun baru, yang sebentar lagi datang, yaitu 1 Januari yang merupakan Hari Perdamaian Dunia dan Hari Persaudaraan Global dimana akar kepahitan dalam relasi antar keluarga, teman, sahabat, dan saudara dihilangkan serta tutup buku, dan kita harus hidup baru.
  • Yang terpenting, pertama dan utama, kita harus berdamai dengan diri sendiri, dengan hati dan pikiran yang bersih, akan menjadikan hidup kita lebih sehat dan bugar dalam Yesus Kristus.
  • Kerendahan hati dan Cinta Kasih Kristus akan memampukan kita semua meneladani dan mengaplikasikannya dalam hidup kita, hari lepas hari.
 
 
Selamat menyambut Tahun Baru 2017 dan Tuhan memberkati kita semua.
 
 
Renungan ini ditulis dalam rangka Hari Ibu (22 Desember), Hari Natal (25 Desember) dan Tahun Baru serta Hari Perdamaian Dunia & Hari Persaudaraan Global (1 Januari).
 
Oleh : Dhanny 
 
 
Axact

Inamedia

Media Bagi Sesama.

Tulis komentar:

0 comments:

Silakan isi komentar, isi diluar tanggung jawab kami.
Mohon menjaga etika dan saling menghormati.

Salam Inspirasi