Jogja, 12 Des 14
Sumber: (sumber gambar;www.majalah.detik.com)
Merdeka.com - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Assyifa Ramadhani (19), terdakwa pembunuh Ade Sara, Selasa (9/12). Mendengar putusan itu, Assyifa langsung kaget dan menangis tersedu-sedu.

kasus yang akhirnya berujung pada vonis hakim kepada terdakwa kasus pembunuhan Ade Sara tersebut bagi saya masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan lain. apakah vonis ini merupakan vonis yang tepat dijatuhkan pada terdakwa?

pada dasarnya setiap kasus-kasus pidana memiliki dasar dan landasan hukumnya masing-masing. setiap kasus harus ditelusuri dengan benar-benar jelas, sampai kemudian keputusan akhir pada vonis pidana yang dijatuhkan hakim. masih ingat kasus Xenia Maut Afriyani Susanti? terdakwa kasus tabrakan maut yang menewaskan 9 pejalan kaki ini di bui selama 15th penjara. sedangkan kalau dibandingkan lagi dengan kasus korupsi impor daging sapi yang dilakukan oleh Luthfi Hasan Ishaaq, hakim menjatuhkan vonis kurungan penjara selama 16 tahun. pada tulisan ini, penulis bukan hendak membahas ataupun mengkritisi perihal kasus ini dari segi hukumnya, karena tentu saja keputusan ya tetaplah keputusan. setiap keputusan hakim pun pasti memiliki alasan dan pertimbangannya sendiri. tulisan ini lebih membahas mengenai 'efek jera' terhadap kasus tindak pidana kasus pembunuhan tersebut. 20th untuk kasus pembunuhan vs 16th untuk kasus korupsiketika membaca keputusan final kasus pembunuhan Ade Sara tersebut, saya membandingkan dengan kasus korupsi impor daging sapi tadi. bagi saya sudah jelas, 'efek jera'nya akan lebih terasa pada pelaku pembunuhan tersebut. mengapa? kalau saya menilik dari sisi kauasiltasnya, pernah tidak membayangkan, gara-gara anda sakit hati menyaksikan pacar anda selingkuh, lalu seketika anda gelap mata membunuh selingkuhan pacar anda, lalu akhirnya anda tertangkap dan dijatuhi hukuman kurungan penjara. belum lagi vonis itu dijatuhkan pada anda selama 20 tahun hidup anda? lalu coba anda bayangkan anda sebagai seorang koruptor, yang dijatuhi hukuman penjara 16 tahun, setelah anda sudah sekian tahun misalnya sudah menikmati hasil korupsi anda itu? meskipun ada hukuman untuk memiskinkan harta kekayaan anda, apakah hukuman itu setimpal bagi anda sebagai terpidana kasus korupsi? maka kalau ditanya soal setimpal atau tidaknya vonis pidana kasus pembunuhan Ade Sara, jawaban saya pribadi adalah 'setimpal'. tetapi kalau ditanya apakah hukuman kasus korupsi tersebut setimpal? jawaban saya; 'tidak setimpal.' mengapa?

1. ketika anda melakukan sebuah tindakan ceroboh/sembrono, dengan keadaan 'gelap mata' atau pun kalau kejahatan itu adalah kejahatan terencana, rasa menyesal seumur hidup adalah hukuman yang sangat menyakitkan bagi anda yang melakukannya. meskipun kalaupun nyawa harus dibayar dengan nyawa, rasa penyeselan itu akan tetap anda bawa sampai anda mati.

2. dalam posisi yang sulit, terpidana kasus pembunuhan tadi, akan sangat sulit menjalani hidupnya setelah masa pidana selesai. stigma publik yang sangat kuat, nama baik yang terlanjur rusak, beserta kondisi psikologis yang masih dalam tekanan, akan sangat sulit untuk menjalani masa setelah pidana. tetapi, bagi terpidana kasus korupsi tadi, menyesal? tidak ada. karena tidak ada yang dirugikan. semua diuntungkan. stigma publik sebagai koruptor? tidak akan berlaku. kenapa demikian? meskipun publik menilai sosok tersebut sebagai koruptor, tetapi orang tersebut masih mempunyai 'koneksi' atau jaringan kontak untuk memulai kembali apa yang sudah gagal kemarin. maka masih mungkin, bagi pelaku kasus korupsi tersebut untuk melakukan tindakan korupsi lainnya. ingat, korupsi itu sebuah penyakit kronis, sekali berbuat maka akan sangat sulit untuk mengobati kembali. korupsi dibangun dari sebuah kebiasaan, sementara dalam kasus pembunuhan, menghilangkan nyawa seseorang kebanyakan dilakukan karena 'gelap mata' atau dalam kondisi emosi.

ini sedikit ulasan saya menanggapi kasus pembunuhan Ade Sara tersebut. pada dasarnya ini bukanlah sebuah analisis kritis atau semacamnya, dan bukan bermaksud membahas dari segi hukumnya. tetapi hanya sebuah catatan kecil saja dan opini penulis pribadi mengenai kasus tersebut. bahwa meskipun kita tahu hukum di Indonesia masih lemah, tapi alangkah baiknya kita tidak bermain-main dengan yang namanya hukum. apalagi kalau sudah menyentuh ranah kasus kriminalitas. mawas diri dan waspada harus senantiasa kita pegang erat supaya terhindar dari persoalan demikian.

ketika awal membaca mengenai kronologis mengapa kasus tersebut terjadi, alasannya sangat sederhana; cemburu. dari kecemburuan, berbuah pembunuhan yang diakibatkan oleh sakit hati. memprihatinkan bukan? hal ini hemat saya pribadi bisa menimpa siapa saja. kita tahu betul bagaimana hebatnya rasa cemburu/sakit hati itu bahkan bisa membunuh pacar sendiri, bahkan keluarga sendiri. dalam banyak kasus kriminalitas di Indonesia, kita sudah 'kenyang' membaca kasus ini terus menerus beredar dengan alasan yang kecil tadi.

menanggapi mengenai berita pemberitaan ini, saya sempat menulis begini dalam akun facebook saya begini;
"konsekuensi main2 sama nyawa orang ya begini ini. masih mending dijatuhi vonis 20thn. kalo seumur hidup, udah sama aja numpang 'lewat' doang di dunia. klo nggak kuat dicemburuin ya jangan main 'tikung2an'......


akhir kata, tetap mawas diri dan waspada sahabat. semoga baik pembaca, atau setidaknya penulis bisa lebih berhati-hati dan bijak menghadapi segala bentuk problematika persoalan hidup kita masing-masing.

Salam Hangatku,Penulis.

bahan bacaan;

http://www.merdeka.com/peristiwa/15-tahun-rekor-vonis-tertinggi-buat-politikus-korup.htmlhttp://www.merdeka.com/peristiwa/16-tahun-bui-luthfi-hasan-pecahkan-rekor-vonis-politikus-korup.htmlhttp://www.merdeka.com/peristiwa/ini-tangisan-penyesalan-assyifa-setelah-divonis-20-tahun-penjara.htmlhttp://news.liputan6.com/read/574205/kasus-xenia-maut-ma-tetap-hukum-afriyani-15-tahun-penjara

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/696189/2/vonis-20th-itu-setimpalkah.html

Axact

Inamedia

Media Bagi Sesama.

Tulis komentar:

0 comments:

Silakan isi komentar, isi diluar tanggung jawab kami.
Mohon menjaga etika dan saling menghormati.

Salam Inspirasi