==============================================
THE WAHANA DHARMA NUSA CENTER [WDN_Center]
Seri Membangun Bangsa : "Membangun spirit, demokrasi, konservasi sumber daya, nasionalisme, kebangsaan dan pluralisme Indonesia ."
==============================================
[Spiritualism, nationalism, resources, democration & pluralism Indonesia
quotient]
Memasuki Tahun-tahun produktif, efisien dan efektif.
"Belajar menyelamatkan sumberdaya negara untuk kebaikan rakyat Indonesia " Politik yang Bermartabat
Oleh: F. Budi Hardiman
Izinkanlah saya mengutip nasehat seseorang dari lima abad silam yang paling banyak dihujat sekaligus diikuti dalam politik: Niccolo Machiavelli, "Membunah sesama warga, menghianati kawan, curang, keji, tak peduli agama," demikian tulisnya, "tidak dapat disebut kegagahan. Cara-cara macam ini dapat memenangkan kekuasaan, tetapi bukan kemuliaan." Gloria, itulah martabat dalam politik.
Politik yang bermartabat tak digerakkan semata-mata oelh nafsu pencarian kekuasaan. Martabat memancar dari tindakan otentik yang penuh kedaulatan dari seorang pemimpin berkarakter. Itulah kemuliaan yang membuat dirinya dihormati rakyatnya. Sisi gagasan tentang martabat ini jarang dicermati para pembaca yang terlanjur menilai Machiavelli sebagai guru kelicikan politik.
Patut disesalkan bahwa masyarakat kita tersedia banyak contoh hilangnya martabat politik di berbagai lini, DPR, entah itu di pemerintahan, DPR, entah peradilan. Rumus "jilat atas, injak bawah" cukup merasuki birokrasi, perusahaan, dan organisasi dalam masyarakat kita. Dari politik uang para kandidat selama pemilu dan pilkada sampai jual beli keputusan pemimpin, seperti dalam jaringan para calo anggaran, menunjukkan kenyataan vulgar dalam politik itu sendiri tidak lagi merupakan tindakan otentik yang berdaulat, tetapi merosot menjadi barang
dagang dalam pasar kuasa.
Di tengah situasi semacam itu, sosok IJ Kasimo, salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan RI, menginspirasi kita tentang politik bermartabat.
Kedaulatan kepemimpinan
Lazimnya martabat dimengerti dengan pemilikan status, gengsi, dan
aset-aset. Berapa rumahnya, mobilnya, gelarnya, gajinya, dan seterusnya?
Tidak atau kurang mempunyai hal-hal itu adalah tidak atau kurang
bermartabat. Maka juga kurang disegani dan seolah tanpa busana. Selama
dikaitkan dengan pemilikan material macam itu, martabat disempitkan
menjadi kekuasaan atau bahkan kekerasan belaka. Ada jiwa kerdil yang
tersembunyi di belakang segala lencananya.
Keterlibatan IJ Kasimo dalam politik menunjukkan hal yang berbeda. Martabat dalam politik tak semata-mata terletak pada status atau atribut sang pemimpin, tetapi pada keagungan sikapnya. Keagungan itu menyembul keluar dari kegagahan, kesungguhan, dan kekuatan karakternya. Karakter kepemimpinan seperti ini nyaris punah dalam masyarakat kita ditelan
gelombang konsumtivisme dan oportunisme.
Tantangan besar yang pasti akan menggerogoti martabat seorang pemimpin
adalah korupsi. Mari kita dengar lagi nasehat orang yang kerap
dihubungkan dengan kebengisan itu. "Jika perlu menghabisi nyawa
seseorang," begitu tulis Machiavelli, "lakukan itu, asal alasannya
jelas, Namun terutama seorang pemimpin tak boleh mencuri harta rakyatnya
karena manusia lebih mudah melupakan kematian ayahnya daripada
kehilangan bagian warisannya." Dalam takaran Machiavelli, kebengisan
plus keadilan membuat pemimpin ditakuti dan dihormati, tetapi mencuri
kas rakyat atau menyentuh istri mereka adalah tindakan keparat memalukan.
Mengapa korupsi melaknatkan politik seorang pemimpin? Pertama, pencuri
kas rakyat itu adalah juga menjual keputusan, padahal dengan menjual
keputusannya, politik sang pemimpin menjadi olok-olok para penyogok dan
penjilat. Uang menjadi berdaulat, sedangkan keputusannya tidak.
Kedua, politik yang kehilangan martabatnya sebagai tindak otentik
kedaulatan itu sekarang terjebak menjadi mmangsa pasar kekuasaan. Ketika
politik berubah menjadi komoditas, harga diri pemimpin tidak diperlukan
lagi karena yang terpenting bukan dirinya, tetapi harga putusannya.
Karena itulah, Machiavelli tidak pantang kebengisan – asal plus harga
diri - karena kebengisan bisa menampilkan karakter dan kedaulatan,
sementara korupsi menggilas habis karakter kepemimpinan.
Dari "bare life" ke "good life"
Tentu Machiavelli berat sebelah dengan anggapan bahwa martabat politik
hanya terletak pada kedaulatan pemimpin. Jika kita mengatakan bahwa
politik seseorang bermartabat, yang dimaksud bukan hanya bahwa
keputusannya tidak bisa dibeli, melainkan juga bahwa ia memiliki
keutamaan yang membangun kehidupan bersama, seperti keadilan, kearifan,
dan solideritas.
Mengacu pada Aristoteles, politik yang bermartabat itu mengubah rakyat
dari sekedar "hidup belaka" (bare life) menjadi "hidup yang baik" (good
life). Martabat politik sang pemimpin memancar dari keberanian,
komitmen, dan konsistensinya dalam menggerakkan suatu kelompok menjadi
suatu bangsa yang berdaulat dan menghasilkan hukumnya hsendiri. Itulah
hidup yang baik.
Manusia menjalani hidup belaka apabila tidak ada hukum yang
melindunginya, tanpa hak dan tanpa martabat, sehingga ia secara konstan
berada dalam keadaan darurat. Di mana kita dapat menemukan manusia yang
menjalani hidup belaka?
Hannah Arendt menunjuk pada kamp konsentrasi Nazi. Giorgio Agamben
menunjuk pada penjara Amerika Serikat di Teluk Guantanamo . Di
tempat-tempat itu manusia memasuki zona tanpa hokum dan menjadi obyek
permainan kekuasaan belaka. Tak terlindung hukum, tahanan boleh dibunuh
tanpa alasan. Baik hidup publik maupun privat para tahanan itu dirampas
dari mereka. Yang mereka miliki hanya hidup belaka. Mereka diempaskan ke
dalam keadaan darurat yang konstan.
Dalam kadar berbeda-beda, hidup belaka dijalani oleh penduduk di
tanah-tanah jajahan, pengungsi, minoritas yang didiskriminasikan, korban
pelanggaran HAM, serta mereka yang hak-haknya diabaikan dan menjadi
permainan kekuasaan. Kehidupan kaum marjinal menyingkapkan kepada kita
bahwa keadaan darurat telah jadi aturan harian bagi mereka. Namun, hidup
belaka yang mereka jalani tidak ada secara alamiah. Hal itu adalah hasil
praktik-praktik politik suatu rezim yang mengubah politik menjadi
sekedar alat kesintasan.
Ketika keputusan pemimpin diperjualbelikan, bukan hanya pemimpin itu
sendiri kehilangan martabatnya dengan berubah menjadi komoditas. Ruang
yang menganga di antara dirinya dan rakyat yang menerima keputusannya
dengan serta merta berubah menjadi zona vakum hukum yang mengempaskan
rakyat ke dalam hidup belaka.
Zona itulah tempat yang sangat rentan untuk kesewenangan permainan
kekuasaan. Percaloan, mafia, dan premanisme yang merajalela di
birokrasi, peradilan dan parlemen melemparkan rakyat ke dalam keadaan
darurat yang konstan. Wajah mereka kita saksikan di mana-mana. Suatu
politik yang bermartabat menyangkut upaya-upaya penuh keutamaan untuk
mengubah hidup belaka menjadi hidup yang baik.
Kita boleh mengatakan bahwa para tokoh pergerakan kemerdekaan antara
lain IJ Kasimo, mempraktikkan tindakan kepemimpinan yang bermartabat,
yakni pantang menjual keputusan mereka kepada pihak mana pun. Perjuangan
kemerdekaan itu sendiri adalah suatu upaya politis untuk memartabatkan
rakyat, yaitu mengubah nasib rakyat dari hidup belaka menjadi hidup yang
baik. Di zaman kita, ketika keputusan para pejabat publik dijualbelikan
dan banyak anggota masyarakat kita menjalani hidup belaka karena menjadi
permainan kekuasaan, contoh berintegritas, berkarakter, dan prorakyat
yang memancar dari tokoh seperti Kasimo menjadi normatif.
Hanya politik yang memartabatkan rakyat yang boleh disebut bermartabat.
Sebaliknya, untuk praktik-praktik politis yang tanpa malu lagi merampas
atau mengabaikan hak-hak rakyat demi kepentingan sendiri, yaitu politik
yang menjerumuskan rakyat ke dalam hidup belaka, tidak ada sebutan lain
selain, - maaf, agak kasar – politik keparat para bajingan yang lemah
karakter. Politik macam itu bahkan kiranya akan dicibir oleh Machiavelli
sebagai tidak gagah.
[F Budi Hardiman, Pengajar Filsafat Politik di STF Driyarkara, Jakarta ,
Kompas, 15/10/2010 ].
Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat.
Best Regards,
Retno Kintoko
SONETA INDONESIA <www.soneta.org>
Retno Kintoko Hp. 0818-942644
Aminta Plaza Lt. 10
Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan
Ph. 62 21-7511402-3
Axact

Inamedia

Media Bagi Sesama.

Tulis komentar:

0 comments:

Silakan isi komentar, isi diluar tanggung jawab kami.
Mohon menjaga etika dan saling menghormati.

Salam Inspirasi