Antara Keong Racun, Monyet dan Inception-nya Leonardo DiCaprio
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer & penulis

"Dasar kau keong racun, baru kenal eh ngajak tidur !"

Aku berani bertaruh bahwa 9 dari 10 orang Indonesia pasti mengenal akrab
penggalan syair diatas. Dubbing lagu Keong Racun via youtube oleh Shinta
dan Jojo itu memang luar biasa fenomenal. Tersebar - hingga keluar
negeri- lewat internet, handphone, BB bahkan televisi. Naif, konyol,
tapi sangat menghibur. Keduanya, disadari atau tidak, telah membuktikan
sedikitnya dua hal. Pertama, keperkasaan internet dan segala kerabatnya
yang akan mempermudah seseorang untuk eksist (baca: ngetop) di abad ini.
Kedua, keberhasilan Shinta dan Jojo membuat siapapun akan bermimpi
bernasib lucky seperti mereka berdua. Sejauh ini aku pribadi menganggap
semua itu sungguh merupakan fenomena unik, yang merupakan perpaduan
antara : iseng, keperkasaan dunia maya dan lagu nyentrik yang sangat
menghibur.

Sampai ketika aku mendengar sekelompok anak kecil (antara 8-10 tahun),
sambil tertawa cekikikan, menyanyikan syair diatas berulang-ulang. "…
baru kenal eh ngajak tidur !".

Lucu memang, untuk kita yang telah dewasa dan menikah. Tetapi untuk
mereka, anak-anak itu. Apakah pengulangan-pengulangan itu tidak kemudian
tertanam di bawah sadar mereka ? Makin kuat, lalu … entah mengendap jadi
apa disana.

Yang jelas, ketika harus berhadapan dengan cermin norma agama dan
susila, kalimat diatas –untuk anak-anak kita- sama sekali tidak lucu
lagi. Bahkan ia kemudian menjelma menjadi virus nakal esek-esek yang mau
tidak mau mengusik keimanan.

Aku jadi teringat sebuah dongeng tentang monyet dan angin. Suatu ketika
terjadilah taruhan antara monyet dan angin. Monyet berkata sesumbar
bahwa angin tidak akan sanggup menjatuhkan dirinya dari atas pohon.
Karena merasa ditantang sekaligus penasaran, anginpun setuju. Tanpa
banyak cakap angin segera mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk meniup
monyet agar segera terhempas ketanah. Tapi aneh, semakin kuat angin
bertiup, semakin erat pula monyet berpegangan pada pohon. Angin
kelelahan, sejauh ini ia gagal. Sedangkan lawannya, Si Monyet berteriak
kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak mengejek. Untunglah angin tidak
menyerah. Ia memutuskan untuk mengubah strategi penyerangan. Jika tadi
ia menggunakan 'kekerasan' kini anginpun bertiup sepoi-sepoi basa.
Karena merasa akan segera memenangkan pertandingan, monyetpun lengah. Ia
tidak menyadari penyerangan diam-diam yang dilakukan oleh lawan. Tidak
lama kemudian, kelopak matanya mulai terasa berat. Rupanya angin
sepoi-sepoi ini telah membuat ia mengantuk. Beberapa saat berlalu,
hingga rasa kantuk tak tertahan lagi olehnya, dan akhirnya…gubraaakkk
!!! Si Monyetpun tersungkur, jatuh ditanah.

Beberapa pengaruh asusila juga berhasil menjatuhkan kita, persis dengan
cara yang sama dengan yang dilakukan angin terhadap monyet. Narkoba
datang lewat 'pergaulan jetset' masa kini. Perlahan-lahan, lalu mulai
diterima sebagai kewajaran. Perselingkuhan semakin berkembang-biak lewat
jargon-jargon unik, Temen Tapi 'Keliwat' Mesra, misalnya. Kawin cerai,
hampir dianggap sebagai 'takdir dari TUHAN' yang dipublikasi lewat
berbagai pemberitaan kawin cerai yang dikemas dalam 'acara hiburan'.
Pornography dan perjinahan menyebar luas keseluruh handphone tua-muda
atas nama 'penasaran' karena kebetulan pemainnya adalah artis lokal yang
sangat ngetop. Dan lain-lain sebagainya.

Seperti halnya ide-ide yang positif, ide-ide bejat seperti ini juga
menyebar laksana virus. Yang diletakkan dibawah sadar seseorang dengan
tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Para pelakunya seolah mengambil
peranan Cobb (Leonardo DiCaprio) dalam film Inception karya Christopher
Nolan yaitu menyuntikkan sebuah gagasan di alam bawah sadar seseorang
lewat mimpi.

Sebagai pekerja seni, aku sama sekali tidak antipati terhadap lagu Keong
Racun. Bagiku pribadi lagu sederhana ini sangat jenius. Sejujurnya, aku
pribadi termasuk penggemar lagu itu. Penciptanya dengan luar biasa
kreatif berhasil mengangkat kenyataan yang terjadi disebagian pergaulan
masyarakat dan mengemasnya dengan kata dan irama yang unik, sehingga
sekali diperdengarkan lagu itu akan nyantol laksana lintah dan sulit
dilepaskan dari pikiran kita. Penciptanya tentu tidak bermasuk buruk
dengar syair-syair yang ia ciptakan. Wong semua itu adalah sebuah
kenyataan !

Hanya saja permasalahan datang ketika anak-anak kita, dengan riang
gembira ikut-ikutan menyanyikan lagu tersebut dan kita sebagai orang
tuanya merasa tidak terlalu perlu untuk menggubris 'angin sepoi-sepoi
basa' itu.

Kemudian siapa yang salah ? Entahlah. Mungkin memang dunia ini telah
begitu tua, sehingga mata hati kita sudah dibuat terlalu rabun untuk
membedakan mana daerah putih dan mana daerah hitam. Semua terlihat
begitu sama. Abu-abu.

Yang jelas segalanya akan segera berpulang kepada diri kita
masing-masing. Karena siapapun akan mengakui, adalah sebuah pekerjaan
yang mustahil untuk membendung seluruh pengaruh (klise) globalisasi.

Seperti halnya film Inception, dimana lawan Leonardo DiCaprio, yakni
Robert Fischer (yang diperankan oleh Cillian Murphy) adalah orang yang
begitu terlatih untuk selalu alert menjaga alam bawah sadarnya, semakin
hari rupanya setiap orang semakin dituntut untuk memiliki penjaga alam
bawah sadarnya, sehingga tidak mudah tercemar pengaruh buruk apapun.
Pengaruh yang akan datang lewat 'mimpi' dan 'angin sepoi-sepoi basa'
yang pasti –cepat atau lambat- membuat kita sama seperti monyet yang
akhirnya jatuh terjerembab ditanah. Dan sialnya, tugas menjaga bawah
sadar kita –supaya tidak tercemar- sungguh bukan perkara mudah. Ada
baiknya kita semua sebisa mungkin segera siuman lalu sadar
sesadar-sadarnya (*)

mlis Manager-Indonesia-subscribe@yahoogroups.com

Axact

Inamedia

Media Bagi Sesama.

Tulis komentar: